Rabu, 15 Desember 2010

Pertempuran di Pulau Iwo Jima-Jepang

PERANG IWO JIMA adalah peristiwa pertempuran antara pasukan Amerika Serikat dengan Jepang sepanjang bulan Februari hingga Maret 1945, ketika berkecamuknya Perang Dunia II.

Dalam pertempuran tersebut, Amerika Serikat berhasil merebut Iwo Jima, termasuk pangkalan udara yang ada di pulau milik Jepang tersebut.

Pertempuran ini terkenal dengan sebuah foto yang menggambarkan sejumlah tentara Amerika yang sedang menegakkan bendera Amerika Serikat di puncak Gunung Suribachi saat pertempuran berlangsung.

Akibat pertempuran ini, Jepang menderita kerugian yang sangat besar. Sekitar 22.000 tentara ditempatkan di pulau tersebut namun hanya 1.083 orang yang hidup.

Sementara pihak Amerika Serikat kehilangan 20.000 tentaranya. Kemenangan di Iwo Jima menjadi langkah strategis bagi Amerika Serikat untuk mendekati pulau-pulau utama di Jepang.

Operasi Detasemen ini sendiri merupakan operasi dengan korban terbesar di pihak AS. Korban disini lebih besar daripada jumlah korban tewas dalam Pertempuran Atol Tarawa. Korban luka-luka di Pertempuran Atol Tarawa mencapai 22.000 prajurit.(wikipedia.org)

Data dan Fakta

Kejadian :
16 Februari 1945-26 Maret 1945
Lokasi   : 
Pulau Iwo Jima, Jepang
Hasil    : 
Kemenangan Amerika Serikat
Komandan Perang :
1. Amerika Serikat
    Holland Smith
2. Jepang       
    Tadamichi Kuribayashi
Kekuatan :
1. Amerika      
    100.000 Marinir
2. Jepang       
    20.700 Tentara
Jumlah Korban :
1. Amerika       
     6.821 terluka;
   20.000 tewas
2. Jepang        
    20.000 tewas ;
    216 tertangkap

Sabtu, 11 Desember 2010

Fosil Bangau Raksasa Ditemukan di Flores

Menurut Zoological Journal of the Linnean Society, fosil bangau putih raksasa ditemukan di Pulau Flores. Peneliti mengatakan, penemuan fosil bangau ini penting untuk mempelajari evolusi manusia purba yang juga ditemukan di pulau ini, Homo floresiensis.

Bangau putih yang diberi nama Leptoptilos robustus itu memiliki tinggi 1,8 meter dan berat hingga 16 kilogram, membuatnya paling tinggi dan paling berat di antara spesies bangau lainnya.

Paleontolog Hanneke Meijer dari National Museum of Natural History di Leiden, Belanda, menemukan fosil ini bersama koleganya, Dr Rokus Due dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Jakarta. Mereka menemukan empat tulang kaki di Gua Liang Bua, Pulau Flores. Tulang-tulang ini diyakini merupakan bagian dari seekor bangau yang hidup antara 20.000 dan 50.000 tahun lalu.

"Saya menyadari tulang-tulang bangau raksasa ini pertama kali di Jakarta, saat mereka disandingkan dengan tulang-tulang yang lebih kecil lainnya. Menemukan burung besar adalah hal biasa di pulau itu. Tapi saya tidak menyangka menemukan bangau putih raksasa," kata Dr Meijer.

Tidak ada tulang sayap yang ditemukan. Para peneliti menyangka bangau ini jarang atau bahkan tidak pernah terbang. Ukuran dan berat tulang kaki serta ketebalan dinding tulang menunjukkan bangau ini sangat berat sehingga menghabiskan sebagian besar hidupnya di darat.

Spesies Pulau Flores

Penemuan spesies raksasa bukan hal baru di Pulau Flores. Para peneliti telah menemukan makhluk-makhluk kerdil, seperti gajah kerdil Stedgodon florensis insularis dan komodo Varanus komodoensis. Di pulau ini pula para ilmuwan menemukan fosil manusia kerdil, Homo floresiensis, yang hanya memiliki tinggi satu meter.

Fenomena perubahan ukuran ini dikenal sebagai faktor pulau dan dipicu beberapa predator yang ada di pulau tersebut. Akibatnya, hewan-hewan yang menjadi mangsa makin kecil, sedangkan hewan predator semakin besar. "Mamalia yang besar seperti gajah dan primata menunjukkan penurunan ukuran. Sementara itu, mamalia kecil seperti hewan pengerat dan burung ukurannya membesar," urai Dr Meijer.

Adapun Homo floresiensis ditemukan pada tahun 2004. Sampai saat ini, para peneliti masih memperdebatkan status Homo floresiensis. Ilmuwan masih mempertanyakan apakah manusia kerdil yang hidup 12.000 hingga 8.000 tahun yang lalu itu termasuk Homo erectus atau Homo sapiens.

"Status Homo floresiensis menjadi bahan perdebatan semenjak ditemukan. Menurut saya, bangau putih raksasa ini penting untuk memahamai evolusi Homo floresiensis. Ada spekulasi kalau bangau putih raksasa ini memakan Homo floresiensis. Meski tidak ada bukti, kemungkinannya tidak bisa dikesampingkan," cetus Dr Meijer.

Hingga kini belum jelas mengapa bangau raksasa, gajah kate, dan manusia purba itu punah. "Tapi, kami memiliki beberapa petunjuk. Semua tulang bangau putih raksasa seperti juga gajah kate dan manusia kerdil ditemukan di bawah lapisan tebal debu vulkanik. Kemungkinan ada erupsi gunung api. Kedua, bangau putih raksasa dan makhluk sezamannya punah sebelum manusia modern muncul di gua itu," pungkas Dr Meijer.

(National Geographic Indonesia/Raras Cahyafitri)

Jumat, 10 Desember 2010

Kubur Batu, Tempat Arwah di Alam Gaib

Mengunjungi kampung- kampung adat di Sumba serasa berada di tanah Galia, tempat tinggal Asterix dan Obelix, tokoh komik ciptaan R Goscinny dan A Uderzo. Ada pagar di sekeliling kampung yang melindungi rumah-rumah kayu beratap jalinan ilalang serta dipenuhi batu megalitik.Bedanya, di kampung orang Galia, batu megalitik berbentuk menhir. Adapun di kampung adat Sumba berupa kubur batu besar.

Sebagaimana Prai (Kampung) Yawang di Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Kampung itu dibangun lebih tinggi dari jalan umum. Berbentuk segi empat dikelilingi pagar batu. Di kampung itu ada sekitar 10 rumah panggung, ada yang berdinding kayu, ada yang dari kulit kerbau. Ada rumah yang atapnya masih dari ilalang. Tapi, karena biaya atap ilalang mahal, bisa sampai Rp 15 juta, sebagian rumah atapnya sudah diganti seng. Sebagian rumah itu berusia lebih dari 100 tahun dan mengalami renovasi beberapa kali.

Ada tiga pintu untuk masuk ke kampung itu. Pintu depan tempat tamu masuk kampung jika ada perhelatan besar, seperti pernikahan atau penguburan. Jika hendak meninggalkan kampung, para tamu dipersilakan lewat pintu belakang. Selepas pintu belakang Prai Yawang ada tangga batu karena belakang kampung itu ngarai yang cukup curam. Selain itu, ada juga pintu samping tempat penghuni memasukkan barang dan hewan.

Rumah-rumah panggung di Prai Yawang mengelilingi kompleks kubur batu. Lebih dari tujuh kubur batu megalitik berdiri megah di tengah kampung. Kubur batu megalitik itu umumnya berukuran sekitar 4 x 2 meter, beratnya sampai puluhan ton, disangga empat tiang batu, menaungi jenazah yang dikubur di tanah dalam posisi duduk meringkuk dilapis puluhan kain adat dan ditutup semen. 

Di atas kubur batu dibuat penji (tugu batu) dengan ornamen binatang, seperti kerbau, buaya, kura-kura, atau harimau yang melambangkan raja, ayam atau babi yang menunjukkan kepemimpinan, dan udang yang melambangkan kehidupan hanya berganti bentuk dunia.

”Penji melambangkan kebesaran bangsawan dan hanya keturunan raja yang boleh membangun di atas batu kubur. Tapi, kini rakyat biasa juga meniru dan membuat penji di atas kubur,” kata Umbu Makabombu (50), bangsawan yang masih tinggal di kampung adat itu.

Di Sumba Timur, kubur batu megalitik bisa ditemui di sejumlah kampung, seperti Kampung Raja Prailiu, 3 km dari Waingapu, ibu kota Sumba Timur, yang populer sebagai tempat tujuan wisata, serta di Kampung Uma Bara, Desa Watu Hadangu, Kecamatan Umalulu, 67 km dari Waingapu. Di Sumba Barat dan Sumba Tengah lebih banyak lagi kubur batu megalitik.

Upacara penguburan sangat penting bagi orang Sumba yang menganut agama Marapu. Mereka menghormati arwah leluhur yang menjadi perantara dalam berhubungan dengan Sang Pencipta. Menurut budayawan Sumba, Frans Wora Hebi (65), masyarakat Sumba percaya, orang yang meninggal hanya pindah tempat. Karena itu, kekayaannya dibawakan ke liang kubur, seperti perhiasan emas dan manik-manik. Penguburan pun dilakukan secara besar-besaran, menyembelih puluhan kerbau dan kuda sebagai bekal di alam sana.
Batu megalitik dipercaya menjadi tempat tinggal di alam gaib. Semakin besar kubur batu, semakin menunjukkan kebesaran para bangsawan itu. Umbu Makabombu memberikan perkiraan biaya penguburan sekitar Rp 250 juta.

Umbu Makabombu menuturkan, pada zaman dulu, saat raja menetapkan waktu penguburan, rakyat segera berkumpul dan bekerja mengambil batu dari gunung dan menarik ke kampung. Hewan-hewan kurban segera disembelih. Sapi dan babi dipotong untuk menjamu tamu dan rakyat yang bekerja. Daging kerbau dan kuda dibagikan untuk dibawa pulang. Saat itu biaya tidak menjadi masalah. Namun, saat ini jenazah bisa disimpan beberapa tahun, hingga anak cucu dan kerabatnya mampu mengumpulkan biaya.

Ketika disinggung apakah tidak lebih baik biaya sebesar itu digunakan untuk memperbaiki rumah dan infrastruktur kampung, Makabombu mengakui, memang sebaiknya demikian. Namun, di sisi lain, adat tetap harus dilaksanakan.

”Mereka harus melaksanakan penguburan sesuai dengan kedudukan. Ini perintah adat, kalau tidak, posisi mereka akan hilang,” kata Makoto alias Umbu Haharu, antropolog Jepang yang menekuni budaya masyarakat Sumba dan pernah tinggal di Desa Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, untuk penelitian disertasinya pada Desember 1985-Juni 1988.

Dalam perbincangan dengan Tim Ekspedisi Jejak peradaban NTT Kompas, Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora menyatakan, pihaknya menyadari, ada sejumlah adat tradisi yang bisa menghambat kemajuan masyarakat. Termasuk, kecenderungan yang lebih mementingkan upacara penguburan yang biayanya Rp 250 juta sampai Rp 1 miliar.

Pihaknya berupaya untuk mengubah bentuk kebanggaan masyarakat Sumba, misalnya bangga jika anak sekolah tinggi dan hidup sejahtera. ”Setiap berkunjung ke desa-desa, saya selalu mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak. Saya bilang kepada para bangsawan (maramba), kalau anak tidak sekolah, maka orang yang bukan maramba dan sekolah tinggi akan menjadi pejabat dan memerintah kalian,” kata Gidion. (*)